Resume Materi Ppkmb Univ Hari Pertama


Materi 1: Penguatan Literasi Keuangan Dan Kesejahteraan Mahasiswa
(Erisandy Yudhistira)

Saat ini, teknologi dan layanan digital membuat segala kebutuhan bisa didapatkan dengan sangat mudah, bahkan hanya dengan sekali klik barang dapat langsung sampai ke rumah, kos, atau kampus. Kemudahan ini menjadi peluang sekaligus ancaman. Peluangnya adalah konsumsi bisa terpenuhi lebih cepat, misalnya kebutuhan untuk kegiatan kampus yang dulu harus disiapkan jauh hari, sekarang bisa terpenuhi dalam hitungan jam. Namun ancamannya, jika tidak bijak mengelola keuangan, fasilitas ini dapat menjadi “silent killer” yang menjerumuskan pada masalah finansial.

Warren Buffett menekankan bahwa investasi terpenting adalah pada diri sendiri. Setiap individu memiliki potensi yang dapat dikembangkan, seperti contoh Raffi Ahmad yang mampu mengembangkan kariernya hingga memiliki aset besar di luar dunia hiburan.

Terkait keuangan jangka panjang, khususnya masa pensiun, mayoritas masyarakat Indonesia masih menggantungkan hidup pada anak/menantu (39,6%) atau dari pekerjaan/usaha (38,2%). Artinya, banyak yang belum memiliki persiapan finansial memadai. Padahal, masa pensiun rata-rata berlangsung sekitar 20 tahun tanpa penghasilan pasti.

Siklus finansial seseorang terbagi dalam beberapa tahap:
Usia 20–35 tahun: masa pembelajaran finansial, mulai berpenghasilan dan belajar mengelola uang.

Usia 35–55 tahun: masa produktif, penghasilan meningkat, tapi harus diiringi dengan perencanaan matang.

Usia 55 tahun ke atas: masa pensiun, kualitas hidup sangat bergantung pada persiapan sebelumnya.

Karena itu, mahasiswa dan generasi muda perlu mulai menyiapkan perencanaan keuangan sejak dini. Prinsip pentingnya adalah menyisihkan uang untuk menabung atau berinvestasi terlebih dahulu, baru kemudian menggunakan sisanya untuk kebutuhan lain. Menabung mungkin tidak membuat cepat kaya, tetapi tidak ada orang yang bisa mencapai kondisi finansial sehat tanpa menabung.



Materi 2: Sistem Pendidikan Tinggi Di Unusa
(Prof. Kacung Marijan, Drs., MA.,Ph.D - Wakil Rektor 1)

Saat ini terdapat sekitar 933 universitas di Indonesia  dan UNUSA termasuk di dalamnya. Dari jumlah tersebut, baru 161 perguruan tinggi yang terakreditasi unggul, dan UNUSA telah meraih status tersebut sejak dua tahun lalu. Bahkan, UNUSA sempat menduduki posisi ke-80 dari seluruh perguruan tinggi negeri maupun swasta yang terakreditasi unggul, sebuah capaian yang membanggakan.

UNUSA memiliki visi menjadi perguruan tinggi terkemuka Dan unggul tidak hanya di Indonesia, tetapi di juga di Asia, dengan target masuk 50 besar universitas terbaik di Indonesia. Untuk mewujudkan visi ini, UNUSA menjalin berbagai kerja sama internasional, antara lain dengan universitas di Singapura, Malaysia, dan Taiwan.

Dalam kurun waktu 10 tahun, UNUSA telah berkembang pesat dengan 23 program studi dari 5 fakultas, sebagian besar telah terakreditasi unggul. Beberapa program studi baru seperti S2 Keperawatan dan S2 Manajemen sedang menuju akreditasi yang lebih tinggi, bahkan UNUSA tengah menyiapkan pembukaan program Dokter Spesialis, yang sebelumnya hanya didominasi perguruan tinggi negeri.

UNUSA memiliki tagline "PERFECT" yang mencerminkan profil lulusan:

  • Profesional

  • Entrepreneur

  • Rahmatan lil Alamin

  • Fokus

  • Empowering

  • Creative

  • Talented

Prinsip yang ditekankan adalah bahwa orang hebat adalah orang yang mampu menemukan dan menemukan potensi dirinya. UNUSA memfasilitasi mahasiswa untuk mengembangkan potensi tersebut melalui pendidikan, organisasi, seni, dan berbagai kegiatan akademik maupun non-akademik.

Selain itu, UNUSA menjunjung tinggi standar mutu nasional dan internasional, dengan dukungan Lembaga Penjaminan Mutu di setiap fakultas. Melalui pendekatan ini, UNUSA bercita-cita tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat (impact university).



Materi 3: Strategi Menumbuhkan Critical Thinking Ability Untuk Menemukan Solusi Terbaik

(Dr. Pulung Siswantoro, SKM., M.Kes.

Dosen Universitas Airlangga)

Pengalaman ke Manila memberi pelajaran penting tentang cara pandang. Di Indonesia, musim panas sering disebut musim kemarau dan dianggap tidak menyenangkan. Sebaliknya, di Filipina musim panas disebut summer, yang identik dengan liburan dan kebahagiaan. Padahal kondisi alamnya sama panasnya, tetapi perbedaan istilah membuat masyarakatnya menikmati keadaan dengan cara positif.

Pelajaran lain datang dari Jepang dengan semangka kotak. Awalnya hanya pertanyaan sederhana "mengapa semangka bulat memakan banyak ruang?" yang kemudian dijawab dengan inovasi. Ini menunjukkan bahwa kreativitas lahir dari sikap kritis dan tidak mudah puas terhadap keadaan. Hal-hal sederhana seperti perbedaan kancing baju pria dan wanita juga membuktikan bahwa banyak hal di sekitar kita bisa dipertanyakan.

Berpikir kreatif sangat penting karena dunia terus berubah. Contohnya saat pandemi 2020, pendidikan dipaksa beralih ke sistem daring. Sesuatu yang dulu dianggap mustahil, kini menjadi nyata. Inovasi seperti GoFood, GrabFood, atau layanan digital lainnya juga lahir dari kepekaan melihat masalah sehari-hari.

Kesimpulannya, orang-orang yang kritis dan kreatiflah yang mampu bertahan dan bahkan menguasai perubahan zaman. Kreativitas adalah kunci untuk menjadikan tantangan sebagai peluang.


Lihat juga Tugas resume teman saya: nabilah

































Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resume Peran Legislatif

Perjalanan Saya Mengatasi Ketidakpercayaan Diri

Resume Materi 1-5 Ppkmb Prodi S1 Keperawatan